Selasa, 25 September 2012

SEMBRONO - by : Hilman Darmawan




SEMBRONO
by: Hilman Darmawan


SemBRono..
aku tidak sedang berpuisi diatas puisi
karena aku tidak senang mengukir diri dengan memperkosa hati
hingga mabok di atas balkon panggung remang-remang
berlari kesana-kesini sambil ketawa ketiwi
bernilai tidak lebih seperti
cuiiiiihhhhh

sungguh aku muak tampil dengan puisi
karena aku tidak suka di hianati
aku biarkan puisi-puisi itu hidup, berdinamika, khusyu’ berdiri sendiri
tidak termakan obsesi-obsesi semu lalu mencari mati
terhasut jubah api bernama hypocrisi
kalaulah tidak panas, apalah artinya api

aku khawatir kalau-kalau puisi-puisi itu nanti akan menjadikanku seperti berlian
yang akan membawa diriku dan hatiku selalu lapar dan haus akan pujian
uang berpeti-peti dan nama besar pun jadi tujuan
serta bahan untuk berbangga-banggaan
candu berangan-angan

Lalu puisi-puisi menjadi minggat dan bercerai dengan hati
menjelma selayaknya bangsa yahudi yang miskin nurani
yang suka terbang melanglang buana liar liat mencari celah-celah berkongsi
membongkar bongkahan-bongkahan klise dan ber-onani
lalu merangkai janji-janji bak politisi

sEMBRono..
ketika puisi-puisi indah itu di taruh di toilet
atau di perlakukan seperti bekas pembalut
ia akan mengancammu kelak
maka biarkanlah jika angin idealisme membelai-belaiku
dan mengarahi puisi-puisi itu tidur nyenyak dalam hatiku saja
tidak bernafsu punya urusan dengan dunia luar
apapun alasannya
indah itu adalah hati
hati yang terpelihara
dan puisi yang terpelihara.-


1909'12
by: Hilman Darmawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar